Gen Z Harus Tau, 3 Hal yang Perlu Diwaspadai Jelang Pemilu

Hal yang harus diwaspadai jelang pemilu
ilustrasi kampanye pemilu 2024
ilustrasi kampanye pemilu 2024

KPU memperkirakan proporsi pemilih muda mencapai sekitar 55 persen atau 107 juta dari total pemilih di Indonesia. Dari hasil rekapitulasi, mayoritas pemilih merupakan generasi milenial yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran 1980 hingga 1995, yakni 33,6 persen.


Pemilu 2024 akan didominasi pemilih muda. Kategori yang termasuk pemilih muda ialah mereka yang berusia 40 tahun ke bawah pada hari pemungutan suara 14 Februari 2024.

KPU memperkirakan proporsi pemilih muda mencapai sekitar 55 persen atau 107 juta dari total pemilih di Indonesia. Dari hasil rekapitulasi, mayoritas pemilih merupakan generasi milenial yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran 1980 hingga 1995, yakni 33,6 persen.

Sementara itu, generasi Z yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran 1997 hingga 2006 mencapai 46.800.161 pemilih atau 22,85 persen. Generasi X mencapai 57.486.482 atau 28,07 persen pemilih, generasi baby boomer 28.127.340 atau 13,73 persen pemilih, dan generasi pre-boomer 3.570.850 atau 1,74 persen pemilih.

Selain mengenal tokoh yang kemungkinan akan menjadi calon pemimpin, Gen Z juga perlu mewaspadai beberapa hal yang bisa merugikan dalam Pemilu 2024. 

Berikut hal-hal yang perlu diwaspadai jelang pemilu.

1. Hoax

Generasi muda akan memegang peranan penting dalam Pemilu 2024. Sebabnya edukasi dan literasi menjadi penting agar tidak terjebak hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.

Gen Z perlu waspada dengan penyebaran ujaran kebencian, misinformasi, dan disinformasi. Ketiganya berisiko merusak kredibilitas, keadilan, dan legitimasi pemilu.

Berdasarkan studi International Foundation for Electoral Systems (IFES), pada pemilu di Indonesia, medsos menjadi ruang disinformasi dan konspirasi pemilu yang dapat merusak kredibilitas, keadilan, dan legitimasi pemilu. Sementara itu, 150 juta penduduk merupakan pengguna aktif medsos. Sebagian besar di antaranya merupakan pemegang hak pilih usia 18 hingga 34 tahun.

2. Black Campaign

Selain hoax atau berita bohong yang marak tersebar di media sosial, Gen Z harus mewaspadai termakan black campaign atau kampanye hitam. Kampanye hitam ditujukan untuk menuduh pihak lawan dengan tuduhan palsu yang belum terbukti.

Contohnya, menuduh seseorang tidak pantas menjadi pemimpin karena agama atau rasnya. Hal ini berbahaya karena dapat mencetus perpecahan atau polarisasi dalam Pemilu.

3. Serangan Fajar

Gen Z juga harus mewaspadai Serangan Fajar atau money campaign yang masih dilakukan sejumlah oknum. Serangan fajar biasanya dilakukan pada hari pencoblosan di pagi buta.

Umumnya, sejumlah oknum yang meminta mencoblos pihak tertentu dengan imbalan dana. Pemilih muda harus sadar bahwa pilihan kalian akan menentukan masa depan Indonesia dalam 5 tahun ke depan.

Gen Z harus mengambil keputusan yang bijak sebelum memilih salah satu sosok pemimpin nantinya.