Mengenal OCD, Gejala dan Penyebab yang Perlu Diketahui

gejala dan penyebab OCD
ilustrasi OCD
ilustrasi OCD

Masalah kesehatan mental ini membuat pengidapnya memiliki pemikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol yang sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku kompulsif.


Obsessive compulsive disorder atau OCD adalah masalah mental yang dapat dialami oleh siapa saja dari semua kelompok usia. Akan tetapi, sebagian besar diagnosis OCD terjadi pada anak usia 19 tahun dan lebih rentan menyerang laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

Masalah kesehatan mental ini membuat pengidapnya memiliki pemikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol yang sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku kompulsif. Melansir siloamhospital.com OCD dengan perilaku obsesif lebih menekankan pada pikiran dan keinginan penderitanya. 

Beberapa contoh tindakan obsesif pada pengidap OCD diantaranya:

1. Merasa takut secara berlebihan terhadap kontaminasi kuman, virus, atau kotoran.

2. Kesulitan dalam menghadapi ketidakpastian. Misalnya, merasa khawatir secara berlebihan ketika menduga-duga apakah kompor telah dimatikan atau belum.

3. Berperilaku agresif secara umum.

4. Memiliki keinginan untuk menata barang atau benda tertentu dengan tepat dan simetris.

Sementara itu, tindakan kompulsif pada orang dengan OCD berkaitan dengan perilaku penderitanya yang dilakukan secara berulang. Biasanya perilaku kompulsif ini bertujuan untuk mengurangi rasa cemas karena penderitanya memiliki pemikiran obsesif.

Beberapa contoh tindakan kompulsif dari OCD yaitu:

1. Mencuci tangan berulang kali dan secara berlebihan.

2. Mengatur barang atau benda secara simetris.

3. Memeriksa pintu yang sudah dikunci berulang kali.

4. Mengulang kata-kata tertentu saat sedang berbicara dengan pelan.

5. Menghitung suatu hal untuk memastikannya berada pada pola tertentu.

Gangguan psikologis ini dapat menggangu aktivitas harian penderitanya, sehingga memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan. Penderita OCD biasanya menyadari bahwa tindakan dan pikirannya berlebihan, tetapi mereka tidak bisa melawannya. 

Saat ingin menghentikan perasaan obsesi, hal yang justru terjadi adalah tekanan dan kecemasan yang mereka alami menjadi semakin meningkat. Akibatnya, mereka perlu melakukan tindakan kompulsif untuk meredakannya. 

Hingga saat ini penyebab pasti OCD belum diketahui. Namun, ada beberapa hal yang diduga dapat menyebabkan seseorang mengalami OCD, diantaranya:

1. Faktor Biologis

Beberapa teori biologis dipercaya memiliki hubungan terkait penyebab OCD, terutama pada seseorang yang kekurangan serotonin kimia pada otaknya. Selain itu, gangguan senyawa kimia (neurotransmitter) di dalam otak, seperti norepinefrin, juga dapat berperan dalam terjadinya OCD. 

Namun, hal ini belum bisa dipastikan sebagai penyebab atau efek dari kondisi tersebut. 

2. Kepribadian

Beberapa penelitian mengatakan, seseorang yang memiliki kepribadian tertentu cenderung memiliki kemampuan lebih besar mengalami OCD. Salah satu contohnya yaitu, seseorang yang rapih, teliti, dan perfeksionis memungkinkan seseorang rentang terkena gangguan obsesi dan kompulsif.

Selain itu, gangguan kesehatan ini bisa juga berkembang pada orang yang memiliki kecemasan atau memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain.

3. Pengalaman Pribadi

OCD dapat disebabkan oleh pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan. Beberapa contohnya, yaitu pernah mengalami pengalaman buruk di masa kecil ( trauma, pelecehan, intimidasi), mengalami kecemasan atau stres yang berkelanjutan, diintimidasi, dan diabaikan.

Pengalaman pribadi menjadi salah satu penyebab paling nyata karena dapat menimbulkan trauma yang berkepanjangan sehingga penderitanya rentan mengalami berbagai gangguan mental, termasuk OCD.

4. Lingkungan

Lingkungan bisa menjadi salah satu penyebab munculnya OCD pada seseorang. Kondisi ini akan rentan terjadi pada seseorang yang tinggal di lingkungan yang tidak mendukung perkembangan psikis semasa kecil. 

Misalnya, anak sering diejek atau diremehkan karena memiliki kekurangan pada dirinya. Hal ini dapat memicu perasaan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna.