5 Jenis Gangguan Psikologis pada Remaja yang Perlu Diwaspdai

Ragam Gagguan Psikologis pada Remaja
Ilustrasi gangguan psikologis
Ilustrasi gangguan psikologis

Gangguan psikologis ini terjadi akibat minimnya pengetahuan terkait gejala yang dialami. Akibatnya, kebanyakan masalah gangguan mental ini tidak disadari dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. 


Gangguan psikologis pada remaja adalah hal yang perlu diwaspadai dan mendapat perhatian khusus. Pasalnya, menurut hasil survei Indonesia-national Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sebanyak 15,5 juta atau 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.

Sementara itu, melansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan sekitar satu dari tujuh anak berusia 10 hingga 19 tahun mengidap masalah ini. Penyebab utama penyakit gangguan mental di kalangan remaja biasanya dikarenakan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku. 

Gangguan psikologis ini terjadi akibat minimnya pengetahuan terkait gejala yang dialami. Akibatnya, kebanyakan masalah gangguan mental ini tidak disadari dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. 

Masalah kesehatan mental perlu diminimalisir dengan cara meningkatkan kesadaran akan jenis masalah mental yang sering dialami oleh remaja. Terdapat beberapa jenis gangguan mental yang sering dialami oleh anak berusia remaja. 

Melansir dari situs WHO dan Mental Health Literacy, berikut sejumlah gangguan mental yang sering terjadi pada remaja.

1. Gangguan Makan

Gangguan makan (eating disorder) merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang sering terjadi pada remaja. Contohnya yaitu anoreksia nervosa, bulimia, dan binge-eating disorder (makan terus-menerus).

Anoreksia nervosa atau adalah gangguan makan di mana penderitanya terobsesi memiliki tubuh yang kurus dan takut jika dirinya mengalami kenaikan berat badan. Gejala utamanya yaitu penurunan berat badan yang drastis. 

Hampir sama dengan anoreksia, gangguan kejiwaan bulimia umumnya memiliki berat badan normal karena pengidapnya memiliki obsesi makan berlebih. Akan tetapi, setelah makan mereka akan memuntahkan makanan tersebut. 

Sedangkan pada binge-eating disorder, anak justru makan terlalu banyak sehingga mereka mengalami obesitas. Biasanya kondisi ini disebabkan oleh stres.

2. Gangguan Emosional

Gangguan emosional merupakan masalah yang paling sering terjadi pada remaja. Kondisi ini dapat berupa gangguan kecemasan yang ditandai dengan panik dan khawatir secara berlebihan, fobia spesifik (takut secara berlebihan pada hal-hal tertentu), dan depresi (kondisi stres yang berlebihan pada anak).

Terdapat gejala yang hampir sama pada pengidap gangguan kecemasan dan depresi yakni perubahan suasana hati secara tiba-tiba. Masalah kejiwaan pada remaja ini dapat memengaruhi pelajaran di sekolah dan menarik diri dari pergaulan. 

Bahkan untuk kasus depresi yang parah, anak berisiko melakukan bunuh diri. 

3. Gangguan Perilaku

Gangguan perkembangan perilaku merupakan gangguan psikologis pada remaja yang sering ditemui. Umumnya, hal ini disebabkan oleh masalah perkembangan otak saat usia dini. 

Gangguan ini dapat memengaruhi pendidikan anak dan berisiko terlibat dalam kenakalan remaja dan melakukan tindakan kriminal. Beberapa jenis gangguan perilaku yang sering terjadi pada anak berusia remaja yaitu ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), conduct disorder, learning disorder (gangguan belajar), ODD (oppositional defiant disorder), dan ASD (autism spectrum disorder). 

4. Psikosis

Gangguan kesehatan mental pada remaja selanjutnya adalah gangguan psikosis. Psikosis adalah jenis gangguan psikologis yang disebabkan oleh masalah pada cara kerja otak dalam memproses informasi.  

Hal ini mengakibatkan penderitanya mengalami perubahan dalam berpikir dan beperilaku. Melansir situs Child Mind Institute, gejala kondisi ini dapat berupa halusinasi dan waham (delusi) yang berdampak pada penurunan kualitas hidup dan kemampuannya dalam melakukan aktivitas harian.

Pengidap yang mengalami halusinasi memiliki gejala sering merasa, melihat, mencium, atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada. 

Sementara itu, delusi ditandai dengan gejala, pengidapnya mempunyai keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang tidak nyata. 

Pada kasus tertentu, gejala psikosis dapat berkembang menjadi skizofrenia.

5. Menyakiti Diri Sendiri dan Bunuh Diri

Dikutip dari WHO, bunuh diri merupakan penyebab kematian keempat pada remaja usia 15 sampai 19 tahun. Tekanan yang dialami oleh anak remaja pada waktu yang lama dapat mendorong munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri (self harm) hingga bunuh diri (suicidal thoughts). 

Faktor risiko gangguan psikologis ini bisa dipicu oleh banyak hal, seperti kekerasan seksual,mengonsumsi alkohol, perundungan (bullying), pengaruh media sosial, adanya akses terhadap sarana bunuh diri, dan sebagainya.